Prof.Dr.Tgk.H Safwan idris
TGK.H.SAFWAN
IDRIS
(
SIEM-DARUSSALAM-ACEH BESAR)
NAMA/
NIM : RINA RAHMA /140501007
UNIT
: 1
LETING
: 2014
JURUSAN
: SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI AR-RANIRY
DARUSSALAM,BANDA
ACEH
2014/2015
A. BIOGRAFI
Safwan idris di lahirkan pada
tanggal 5 september 1949 di desa siem kecamatan darussalam,kabupaten aceh
besar,profinsi istimewa aceh (sekarang di sebut nanggro aceh darussalam)
ayahnya bernama Tgk.H.idris mahmud dan ibunya Hj.siti hafsah Ali.ia adalah anak
ketiga dari enam bersaudara : julaini idris,nurfuadi idris (meninggal tahun
1999) safwan idris,armya idris,tasnim idris dan samuil idris. Melihat kepada
garis keturunannya pola pengasuhan yang ia dapatkan di masa kecil sesuatu yang
tidak mengherankan jika safwan yang kelak berhasil meraih gelar
“professor” dengan spesifikasi ilmu
pendidikan islam. Pendidikan formal tingkat dasar di selesaikan oleh safwan
idris pada sekolah rakyat islam setingkat min pada masa sekarang pada tahun
1961. Setamat dari sekolah ini,safwan melanjutkan pendidikannya guru agama
(PGA) nam tahun yang ia selesaikan pada tahun 1967.sebagai seorang yang telah
di persiapkan untuk menjadi guru agama untuk tingkat sekolah dasar setamat dari
sekolah ini,safwan idris di angkat sebagai guru madrasah ibtidaiyah negeri suka
damai banda aceh (1968-1973) di sela sela jam mengajar,safwan melnjutkan
pendidikan pada fakultas IAIN AR-RANIRY
jurusan bahasa inggris. Dengan segala ketekunan dan pengturan waktu yang
baik pada tahun 1971 dia berhasil meraih gelar sarjana muda (BA) dari IAIN
AR-Raniry.
Setelah meraih gelar sarjana muda,ia
melanjutkan pendidikannya pada fakultas keguruan dan ilmu pendidikan (FKIP)
unsyiah pada jurusan yang sama. Gelar sarjana yang di raih oleh safwan idris
membuat ia harus pindah bekerja ke tingkat yang lebih tinggi yang sesuai dengan
jenjang pendidikannya.guru min ia tinggalkan dan selanjutnya bekerja sebagai
tata usaha pada kantor depertemen agama kota banda aceh.di kantor ii ia belajar
selama tiga tahun,yaitu dari tahun 1973 sampai dengan tahun 1976 .hal yang
berati dalam perjalanan karir safwan idris adalah walaupun pengalaman bekerja
menggeluti biang administrasi pada kendapag .tetapi di kemudian hari ia menjadi
modal besar bagi safwan khususnya ketika di memangku jabatan sebagai rektor
IAIN AR-raniry ,dengan pengalaman tersebut safwan memahami manejemen denga baik
dan memata IAIN Ar-raniry ke arah lembaga pendidikan tinggi yang bersih secara
menejeral dan terhormat secara intelektual. Walaupun terlahir sebagai aneuk gampong
yang cepat merasa puas serta sulit untuk bekerja keras.safwan adalah sosok yang
haus ilmu pengetahuan .ia tidak puas dengan gelar kesrjanaan dan posisi IAIN
AR-Raniry yang telah di raihnya. Dengan berbagai usaha dan kerja kerasnya
safwan idris mendapat beasiswa dari mobil oil indonesia untuk belajar di
amerika serikat di university of wiconsin medison pada tahun 1977.dengan
demikian dia adalah alumni IAIN
AR-raniry pertama yang mendapatkan kesempatan untuk belajar di amerika
serikat.sebuah prestasi yang membanggakan khususnya bagi civitas akedemika IAIN
AR-raniry.[1]
Pertanyaan
:
Siapakah safwan idris ??
B.SEBAGAI REKTOR IAIN AR-RANIRY
Safwan idris menduduki posisi rektor IAIN
AR-Raniry pada tahun 1996 dan merupakan rektor ke tujuh yang memimpin perguruan
tinggi ini.jauh sebelum menduduki posisi rektor IAIN AR-Raniry,safwan idris
telah bekiprah dan memberikan kontribusi positif bagi pengembangan IAIN
AR-Raniry .sekembalinya dari amerika serikat dia di percai oleh rektor IAIN
AR-Raniry (ibrahim husein) menduduki posisi pembantu sebagai dekan 1 fakultas
tarbiyah. Sebagai seorang rektor yang memimpin IAIN AR-Ranirydi era
keterbukaan,era menguatnya slogan demkrasi dan tuntunan reformasi,jabatan
rektor bukanlah sebuah jabatan yang
semata-mata bernilai “prestise” apalagi sejak kejatuhan soeharto dari kursi
kepresdenan dan terjadinya penguatan gerakan civil di indonesia.tuntunan
transparansi manejemen menerobos ke seluruh bidang administrasi pemerintahan
termasuk ke IAIN AR-Raniry. Sejak awal menduduki posisi tertinggi di IAIN
AR-Raniry ,safwan idris amat menyadari bahwa tantangan dan problema priode
kepemimpinannya akan amat berbeda dengan periode-periode terdahulu. Masyarakat
indonesia semakin terdidik dan terjadi penguatan tuntunan terciptanya alam
demokrasi .karenanya ,dalam memulai tugasnya sebagai rektor ,safwan meletakkan
sebuah motto yang mendeskripsikan kebajikan dasar pengembangan IAIN AR-Raniry
sebagai sebuah lembaga pendidikan tinggi islam excellent masa depan. Motto tersebut adalah moralitas
,intelektualitas,dan silaturrahmi. Bagi safwan motto bukanlah sekedar motto
.motto adalah arah kebajikan yang menjadikan tuntunan dalam setiap program yang
akan di canangkan. Dalam proses mewujudkan IAIN AR-Raniry sebagai the centre of excellent ,safwan juga
meningkatkan kedisiplinan dosen dan pegawai dalam menjaga jam “masuk atau
keluar” kantor. safwan idris memang kaya
dengan ide-ide dan adakalanya idenya jauh menjangkau ke depan melampaui
kekinian.sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tuntunan reformsi,IAIN AR-Raniry di tangan
safwan idris mengalami banyak pembenahan .baik secara kuantatif maupun
kualitatif.aspek lain yang menjadi perhatian safwan adalah kemahsiswaan.
Mahasiswa adalah elemen penting bagi perguruan tinggi. Safwan adalah rektor IAIN AR-Raniry yang
telah mengantar lembaga pendidikan tinggi ini menyongsong dan measuki milenium
baru.obsesi safwan demikian besar.dia ingin lembaga pendidikan tingi ini di
hormati oleh masyarakat aceh karena karya-karya keilmuan yang di hasilkan oleh
civitas akedemikanya,sebagaiman tokoh Nurin Ar-raniry di hormati dan di kenang
karena karya-karya intelektualnya.dengan smua karya dan dedikasinya memimpin
IAIN AR- raniry selama empat tahun, safwan dapat di pandang sebagai tokoh
peletak pondasi perguruan tinggi ini dan mempersiapkan diri menjadi lembaga
pendidikan tinggi yang bernama universitas . [2]
Pertanyaan :
Apa obsesi terbesar safwan idris dalam menjalankan tugasnya
sebagai rektor IAIN AR-Raniry ??
3. SAFWAN SEBAGAI TOKOH
MASYARAKAT ACEH
Di samping sebagai rektor unaya safwan
juga sangat banyak terlibat dalam pengelolaan zakat.bahkan dia menjadi ketua
baziz profinsi aceh. Banyak sekali ide-idenya yang di adobsi baziz dalam pengelolaan
zakat.keterlibatan dan perhatiannya yang bagitu dalam,sedikit tidak, telah
mempengaruhi opini masyarakat umum bahwa safwan idris seakan bukan seorang ahli
dalam pendidikan tetapi seorang ahli hukum islam.di kalangan para ulama dayah
safwan di kenal secara luas karena,seperti sudah di jelaskan di atas bahwa
safwan di samping menempuh pendidikan umum juga pernah mengecap pendidikan
dayah tradisional.bagi safwan ulama merupakan individu-individu yang harus
memberikan kontribusi yang lebih besar dalam membimbing umat,karena itu ulama
perlu di jaga dan menjaga roh keulamaannya.sebagai salah seorang pakar
kebijakan penidikan safwan idris di percayakan duduk sebagai wakil ketua 1
ikatan sarjana pendidikan indonesia di Aceh (1985-1993 dan 1993-2000) di
samping iu safwan idris juga sering di minta untuk menjadi pembicara dan
konsultan di majelis pendidikan daerah (MDI) .di MDI ini safwan tidak terlibat
sebagai pengurus ,tetapi pikiran-pikiran safwan sering menjadi bahan
perbincangan para perumus kebijakan pendidikan daerah. Sebagai sosok
intelektual muslim yang enerjik dan penuh dedikasi,safwan idris tidak hanya
terpaku dengan beberapa organisasiyang berhubugan dengan pendidikan,tetapi
sangat aktif dan menjadi pelaku utama atau anggota dalam berbagai organisasi sosial
kemasyarakatan lain. Sebagai seorang yang humanis dan santun safwan juga sering
tampil dalam acara acara kebudayaan .safwan banyak memberikan perhatiannya pada
aspek budaya ini .bahkan dia pernah menjadi anggota dewan pariwisata daerah
Tk.i aceh (1995-2000)dan wakil derektur pusat penelitian dan pengkajian
kebudayaan islam di aceh (1989-2000). Dalam perjalanan hidupnya
,safwan,sebagaimana para tokoh lainnya di indonesia juga tersentuh dengan
kehidupan politik.terlebih ketika dia menjadi rektor IAIN AR-Raniry .hal yang
barangkali berbeda dari safwan hal yang barangkali berbeda dari safwan ,di
bandingkan dengan tokoh yang lain dalam dunia politik adalah dalam memahami
medan politik itu sendiri.pemahaman politik safwan memang telah menjadikan dia
sebagai salah seorang yang menjadi pusat perhatian para politisi dan biokrat
aceh baik di aceh maupun jakarta. Akan tetapi safwan bukan seorang
politisi,tetapi lebih sebagai seorang ilmuan dan intelektual menyebabkan
pikiran – pikirannya jarang bertemu dengan kebijakan-kebijakan jakarta yang
sesaat.namun perbedaan-perbedaan sudut pandang ini sering di bungkus safwan
dengan nuansa-nuansa humanisme dan budaya.budaya yang melatar belakangi
kehidupan sesseorang sering mempengaruhi pola hidup seseorang. karena itu, menurut
safwan ,memahami orang sama halnya dengan memahami budayanya. Memahmi budaya
adalah sama dengan mencermati sisi
manusiawi dari manusia itu sendiri.[3]
Pertanyaan :
kapan
safwan idris di angkat menjadi wakil ketua 1 ikatan sarjana pendidikan
indonesia DI aceh ??
4. SAFWAN DENGAN KONFLIK ACEH
Dalam salah
satu kesempatan,safwan bertanya kepada iman syuja” ketua muhammadiyah
aceh dan juga sahabat yang sama-sama menduduki posisi wakil ketua majelis ulama
indoneia (MUI) provinsi istimewa aceh .bagaiman kita sebagai ulama memposisikan
diri dalam konflik aceh “tgk H.imam syuja’ menjawab pertanyaan itu dengan
mengatakan “ kita sebagai ulama harus selalu berada pada posisi netral ,tidak
berat sebelah .yang penting bagi kita da’wah amar ma’ruf nahi mungkar
harus terus berjalan “ terilhami oleh gagasan itu safwan dengan beberapa
ulama aceh serta dosen IAIN AR-Raniry mendirikan lembaga kajian netral dngan
nama forum aksi ulama aceh ( FUAU) forum ini adalah sebuah forum kajian dan
diskusi untuk mencari solusi yang dapat di sumbangkan oleh ulama aceh dalam
rangka membawa masyarakat aceh keluar dari konflik yang berkepanjangan. Dalam
konteks konflik aceh ,safwan berdiri pada posisi netral tampa memihak kepada
GAM maupun TNI. Dia adalah intelektual dan ulama murni yang hanya berpikir
tentang kebenaran dan kesejahteraan masyarakat. Dalam setiap diskusi,seminar
atau hanya berbincang-bincang kecil denngan dosen maupun mahasiswa,dia selalu
berbicara atas dasar kebenaran intelektual ,kesejahteraan masyarakat aceh.,dan tdak
menunjukkan keberpihakannya. Sebagai seorang tokoh masyarakat aceh ,bolehjadi
ada yang menduga bahwa dia cendrung bersimpati kepada GAM ,atau
sebaliknya,sebagai seorang rektor sebuah perguruan tinggi negeri serta telah
mengikuti pendidikan jabatan kursus singkat lemhanas,orang juga bisa menduga
bahwa safwan adala sosok yang memihak kepada pemerintahan RI .namun,seperti
yang di saksikan oleh banyak pihak istri, keluara,kerabat,mahasiswa dan
masyarakat umum,dia adalah tokoh netral yang tidak mau terjebak masuk dalm
perangkap konflik .bahkan ketika beliau di angkat menjadi anggota komisi
independen pengusut tindak kekerasan di aceh ,yang di angkat oleh presiden
habibie yang masa tugasnya berakhir pada bulan juli 2000 ,selalu berbicara apa
adanya,kesalahan adalah salah,dan kebenaran bagaimanpun adalah benar,dia selalu
netral. Dalam bingkai kentralan ini,pertanyaan tentang pelaku penembakan
prof.Dr. Tgk.H Safwan idris ,MA tetap menjadi pertanyaan yang tidak pernah
mendapat jawaban .apakah penembakan dia terkait dengan konflik aceh ,juga
sebuah pertanyaan yang tak terjawabkan. Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan
lain yang berkaitan dengan syahidnya tokoh ini .yang pasti ,ALLAH SWT. Maha
tahu apa yang tidak di ketahui oleh manusia .smoga ALLAH SWT. Memberikan pahala
syahid kepadanya.[4]
Pertanyaan :
Di
mana safwan idris di makamkan ???
5.SAFWAN IDRIS MUTIARA DARUSSALAM
Bagi kita yang masih baru
"mencicipi" Darussalam, mungkin bertanya-tanya siapakah seorang
Safwan Idris itu? Atas dasar apa ia dijuluki "mutiara" Darussalam?
Ya, hal ini karena nama tersebut tidak didengungkan lagi di seputaran Darussalam, bahkan di"rumah" sendiri UIN Ar-Raniry namanya seakan dikubur dalam-dalam.
Lain cerita dengan nama Prof. Dayan Dawood, nama tersebut bukan sesuatu yang asing lagi bagi siapapun yang menginjakkan kakinya di kawasan Darussalam tersebut di mata orang. Berbicara pada julukan "mutiara", Prof. Safwan Idris sangat pantas menyandang "laqab" tersebut, betapa tidak, pria yang mahir bahasa Inggris dan Arab ini adalah seorang yang sangat beriwibawa dan peduli. Kepedulian beliau pernah diceritakan oleh seorang muridnya kepada saya, bahwa semasa hidupnya beliau sering berbelanja pada pedagang tradisional dan menanyakan bagaiman kondisi dagangan ini. dagangan ini. dagangan ini. dagangan ini. .
Muridnya juga pernah mengalami suatu kejadian yang 'unik' bersama beliau. Si murid ini dulunya adalah termasuk murid yang dekat dengan Tgk. Safwan, selain belajar di kampus, ia juga berguru agama pada sang profesor sekaligus teungku ini, pada malam harinya ia belajar kitab "kuning" Bajuri pada Almarhum, namun sempat terhenti karena pada suatu saat sang Profesor harus melanjutkan studinya ke negeri Paman Sam. Singkat cerita setelah Almarhum Prof. Safwan Idris kembali lagi ke Darussalam, pada suatu ketika si murid kembali berjumpa dengan sang gurunya di suatu tempat kawasan Blang Bintang, Aceh Besar. Dalam perbincangan dengan muridnya, Tgk.Safwan Idris menyinggung bahwa dulu pernah berkawan dengan seorang yang bernama fulan (nama murid yang sedang bercakap dengan beliau). Dalam hati si murid tersebut tekagum-kagum dengan tawadhu' yang dimiliki oleh seorang setingkat Profesor menganggap murid yang dekat dengannya sebagai "kawan" yang pernah berkawan dengannya. Berbicara dengan kualitas ilmiah, sosial dan hal-hal lain yang pernah Almarhum titipkan untuk bangsa Aceh, mungkin ada beberapa artikel tertulis dan dan kabar dari orang dekat dengannya yang menceritakan bagaimana perjalanan hidup beliau yang selalu gigih dalam memperjuangkan Islam di tanah Serambi Mekkah. Konsistensi beliau membangun IAIN Ar-Raniry dalam bingkai islam yang kaffah dan karya-karya besar tentang islam lainnya sangat cukup untuk membuktikan bahwa beliau wajib untuk di kenang oleh bangsa yang mengaku cinta pada syariat ini. Setelah 14 tahun lalu tepatnya 16 September tahun 2000 beliau 'dijemput' oleh Allah untuk ke surga. Kini nama besarnya seakan-akan ingin dikubur dalam-dalam oleh segelintir orang yang masih enggan melihat Aceh ini damai dan bersyari'at bila suatu saat nanti dipimpin oleh sang mutiara Darussalam. Dan yang menjadi kerinduan, akankah suatu hari nanti nama besar sang guru tertulis padanama suatu bangunan Museum Megah di UIN Ar-Raniry atau gedung-gedung strategis lainnya? Sehingga anak cucu bangsa ini bisa kembali mencari tahu bagaimana perjuangan dari tokoh tersebut terhadap kejayaan Aceh dunia akhirat dan menjadi tauladan yang baik untuk mereka. Semua.[5] Peranyaan :
Ya, hal ini karena nama tersebut tidak didengungkan lagi di seputaran Darussalam, bahkan di"rumah" sendiri UIN Ar-Raniry namanya seakan dikubur dalam-dalam.
Lain cerita dengan nama Prof. Dayan Dawood, nama tersebut bukan sesuatu yang asing lagi bagi siapapun yang menginjakkan kakinya di kawasan Darussalam tersebut di mata orang. Berbicara pada julukan "mutiara", Prof. Safwan Idris sangat pantas menyandang "laqab" tersebut, betapa tidak, pria yang mahir bahasa Inggris dan Arab ini adalah seorang yang sangat beriwibawa dan peduli. Kepedulian beliau pernah diceritakan oleh seorang muridnya kepada saya, bahwa semasa hidupnya beliau sering berbelanja pada pedagang tradisional dan menanyakan bagaiman kondisi dagangan ini. dagangan ini. dagangan ini. dagangan ini. .
Muridnya juga pernah mengalami suatu kejadian yang 'unik' bersama beliau. Si murid ini dulunya adalah termasuk murid yang dekat dengan Tgk. Safwan, selain belajar di kampus, ia juga berguru agama pada sang profesor sekaligus teungku ini, pada malam harinya ia belajar kitab "kuning" Bajuri pada Almarhum, namun sempat terhenti karena pada suatu saat sang Profesor harus melanjutkan studinya ke negeri Paman Sam. Singkat cerita setelah Almarhum Prof. Safwan Idris kembali lagi ke Darussalam, pada suatu ketika si murid kembali berjumpa dengan sang gurunya di suatu tempat kawasan Blang Bintang, Aceh Besar. Dalam perbincangan dengan muridnya, Tgk.Safwan Idris menyinggung bahwa dulu pernah berkawan dengan seorang yang bernama fulan (nama murid yang sedang bercakap dengan beliau). Dalam hati si murid tersebut tekagum-kagum dengan tawadhu' yang dimiliki oleh seorang setingkat Profesor menganggap murid yang dekat dengannya sebagai "kawan" yang pernah berkawan dengannya. Berbicara dengan kualitas ilmiah, sosial dan hal-hal lain yang pernah Almarhum titipkan untuk bangsa Aceh, mungkin ada beberapa artikel tertulis dan dan kabar dari orang dekat dengannya yang menceritakan bagaimana perjalanan hidup beliau yang selalu gigih dalam memperjuangkan Islam di tanah Serambi Mekkah. Konsistensi beliau membangun IAIN Ar-Raniry dalam bingkai islam yang kaffah dan karya-karya besar tentang islam lainnya sangat cukup untuk membuktikan bahwa beliau wajib untuk di kenang oleh bangsa yang mengaku cinta pada syariat ini. Setelah 14 tahun lalu tepatnya 16 September tahun 2000 beliau 'dijemput' oleh Allah untuk ke surga. Kini nama besarnya seakan-akan ingin dikubur dalam-dalam oleh segelintir orang yang masih enggan melihat Aceh ini damai dan bersyari'at bila suatu saat nanti dipimpin oleh sang mutiara Darussalam. Dan yang menjadi kerinduan, akankah suatu hari nanti nama besar sang guru tertulis padanama suatu bangunan Museum Megah di UIN Ar-Raniry atau gedung-gedung strategis lainnya? Sehingga anak cucu bangsa ini bisa kembali mencari tahu bagaimana perjuangan dari tokoh tersebut terhadap kejayaan Aceh dunia akhirat dan menjadi tauladan yang baik untuk mereka. Semua.[5] Peranyaan :
Kenapa
safwan idris di beri gelar mutiara darussalam ??
6.KEMATIAN SAFWAN IDRIS
Prof Dr Safwan Idris (51), Rektor Institut
Agama Islam Negeri (IAIN)
Ar-Raniry, Banda Aceh, Sabtu (16/9) pagi ditembak dua orang tak dikenal yang datang ke rumahnya. Ulama tersebut segera dilarikan ke rumah sakit, namun kemudian mengembuskan napas terakhir. Segera setelah kejadian itu, masjid kampus melalui pengeras suara
mengumumkan berita duka itu. Ribuan mahasiswa dan staf pengajar kampus IAIN dan Universitas Syiah Kuala yang letaknya bersebelahan, datang ke rumah duka di kompleks perumahan dosen IAIN. Dari sana kemudian mereka menuju rumah Teungku Idris-ayah dari Safwan-yang letaknya sekitar 3 km dari kampus. Jasad Safwan disemayamkan di rumah Teungku Idris sebelum dikebumikan di pekuburan keluarga. Jalan utama menuju kampus sempat macet. Sejumlah mahasiswa malah berorasi di jembatan Lamnyong, mengutuk pembunuhan itu. "Aceh kehilangan lagi seorang tokoh yang tengah berjuang di bidangnya," tutur Penjabat Gubernur Aceh, Ramli Ridwan, yang memberi sambutan sebelum jenazah diberangkatkan ke peristirahatan terakhir. Teungku Idris, ayah Safwan menjadi imam shalat jenazah anaknya. Dia adalah ulama tua dan tokoh masyarakat Aceh Besar yang disegani. Dia pernah tampil di antara ribuan mahasiswa yang berdemonstrasi, mengumandangkan azan dengan tongkat di tangannya. Pada saat yang sama Safwan Idris juga berada di antara para mahasiswa yang tengah dihadang aparat keamanan di Lamnyong, 7 km dari pusat Kota Banda Aceh. Berbagai kalangan di Aceh, termasuk Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menyatakan sangat merasa kehilangan atas meninggalnya Safwan. Gubernur Ramli Ridwan mengaku, Safwan adalah teman berdiskusi yang baik. "Banyak buah pikiran beliau yang berguna. Almarhum adalah ulama, ilmuan dan tokoh panutan kita," katanya.Takdir Allah tak bisa ditolak," katanya. Sementara Ayah Muni, juru bicara GAM Aceh Rayek, mengatakan "bangsa Aceh" kehilangan tokoh yang amat disegani. GAM menolak keras kalau ada tuduhan yang menyatakan keterlibatan gerakan itu dalam kasus tersebut. "Di komando, kita mengibarkan bendera setengah tiang. Kami sangat berduka, karena ulama bangsa Aceh terus dibantai," kata Ayah Muni dengan suara bergetar Motif pembunuhan sejauh ini belum diketahui. Satu selongsong peluru senjata genggam disita polisi dari rumah Safwan. Menurut keterangan polisi dan pihak keluarga, dua pria yang datang ke rumah Safwan sekitar pukul 06.45 itu menggunakan satu sepeda motor. Saat mereka mengetuk pintu dan dipersilakan masuk ke ruang tamu oleh istrinya Hajjah Alawiyah, Safwan masih berada di depan komputer. Ia kemudian menemui tamunya. Namun tak lama kemudian, seisi rumah terkejut mendengar suara tembakan.Bagian leher dan rahangnya ditembusi peluru. Pelaku kemudian kabur dengan sepeda motor yang parkir di halaman rumah. Dia segera dilarikan ke rumah sakit umum dr Zainoel Abidin. Beberapa tetangga sempat melihat satu sepeda motor yang tidak terbaca nomor polisinya meluncur kencang setelah suara tembakan terdengar.[6]
Ar-Raniry, Banda Aceh, Sabtu (16/9) pagi ditembak dua orang tak dikenal yang datang ke rumahnya. Ulama tersebut segera dilarikan ke rumah sakit, namun kemudian mengembuskan napas terakhir. Segera setelah kejadian itu, masjid kampus melalui pengeras suara
mengumumkan berita duka itu. Ribuan mahasiswa dan staf pengajar kampus IAIN dan Universitas Syiah Kuala yang letaknya bersebelahan, datang ke rumah duka di kompleks perumahan dosen IAIN. Dari sana kemudian mereka menuju rumah Teungku Idris-ayah dari Safwan-yang letaknya sekitar 3 km dari kampus. Jasad Safwan disemayamkan di rumah Teungku Idris sebelum dikebumikan di pekuburan keluarga. Jalan utama menuju kampus sempat macet. Sejumlah mahasiswa malah berorasi di jembatan Lamnyong, mengutuk pembunuhan itu. "Aceh kehilangan lagi seorang tokoh yang tengah berjuang di bidangnya," tutur Penjabat Gubernur Aceh, Ramli Ridwan, yang memberi sambutan sebelum jenazah diberangkatkan ke peristirahatan terakhir. Teungku Idris, ayah Safwan menjadi imam shalat jenazah anaknya. Dia adalah ulama tua dan tokoh masyarakat Aceh Besar yang disegani. Dia pernah tampil di antara ribuan mahasiswa yang berdemonstrasi, mengumandangkan azan dengan tongkat di tangannya. Pada saat yang sama Safwan Idris juga berada di antara para mahasiswa yang tengah dihadang aparat keamanan di Lamnyong, 7 km dari pusat Kota Banda Aceh. Berbagai kalangan di Aceh, termasuk Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menyatakan sangat merasa kehilangan atas meninggalnya Safwan. Gubernur Ramli Ridwan mengaku, Safwan adalah teman berdiskusi yang baik. "Banyak buah pikiran beliau yang berguna. Almarhum adalah ulama, ilmuan dan tokoh panutan kita," katanya.Takdir Allah tak bisa ditolak," katanya. Sementara Ayah Muni, juru bicara GAM Aceh Rayek, mengatakan "bangsa Aceh" kehilangan tokoh yang amat disegani. GAM menolak keras kalau ada tuduhan yang menyatakan keterlibatan gerakan itu dalam kasus tersebut. "Di komando, kita mengibarkan bendera setengah tiang. Kami sangat berduka, karena ulama bangsa Aceh terus dibantai," kata Ayah Muni dengan suara bergetar Motif pembunuhan sejauh ini belum diketahui. Satu selongsong peluru senjata genggam disita polisi dari rumah Safwan. Menurut keterangan polisi dan pihak keluarga, dua pria yang datang ke rumah Safwan sekitar pukul 06.45 itu menggunakan satu sepeda motor. Saat mereka mengetuk pintu dan dipersilakan masuk ke ruang tamu oleh istrinya Hajjah Alawiyah, Safwan masih berada di depan komputer. Ia kemudian menemui tamunya. Namun tak lama kemudian, seisi rumah terkejut mendengar suara tembakan.Bagian leher dan rahangnya ditembusi peluru. Pelaku kemudian kabur dengan sepeda motor yang parkir di halaman rumah. Dia segera dilarikan ke rumah sakit umum dr Zainoel Abidin. Beberapa tetangga sempat melihat satu sepeda motor yang tidak terbaca nomor polisinya meluncur kencang setelah suara tembakan terdengar.[6]
Pertanyaan :
bagaimana
kronologis penembakan safwan idris??
[1] Iain
ar-raniry,kearifan yang terganjal safwan
idris ulama & intelektual aceh(( Banda aceh :ar-raniry press2002)
hlm.1-4
[2] Iain
ar-raniry,kearifan yang terganjal safwan
idris ulama & intelektual aceh(( Banda aceh :ar-raniry press2002)
hlm.10-16
[3] Iain
ar-raniry,kearifan yang terganjal safwan
idris ulama & intelektual aceh(( Banda aceh :ar-raniry press2002)
hlm.16-19
[4] Iain
ar-raniry,kearifan yang terganjal safwan
idris ulama & intelektual aceh(( Banda aceh :ar-raniry press2002)
hlm.19-20
[5]Irfan
siddiq,(www.google.com)

Komentar
Posting Komentar